Download

google_language = ‘en’

Liver Baru Putra Sudah Bisa Produksi Albumin; Menkes dan Dokter Kepresidenan Terus Pantau Kondisis Terbaru

Tim dokter yang menangani Ramdan Aldil Saputra alias Slamet Hadi Syahputra kemarin (12/5) bisa sedikit bernapas lega. Sebab, kondisi balita 3,5 tahun yang pada 24 April lalu menjalani transplantasi liver pertama di RSUD dr Soetomo itu sudah sedikit membaik. Kemarin, perdarahan di otak kiri Putra (panggilan baru untuk Ramdan) yang terjadi sejak Selasa (11/5) sudah berhenti. Perdarahan yang diketahui Selasa sore sekitar 17 cc itu sampai kemarin tak menunjukkan penambahan jumlah. Karena itu, dokter memutuskan tidak melakukan invasi berupa pemasangan drain (slang untuk mengeluarkan cairan) atau trepanasi (operasi otak dengan membuka tulang tengkorak). Ketika Putra mengalami dua kali perdarahan otak secara berturut-turut pada 28 dan 29 April lalu, trepanasi-lah opsi yang diambil para dokter untuk menghentikan perdarahannya. Namun, mengingat kondisi pembuluh darah Putra yang sangat rapuh, opsi itu sedapat mungkin memang dihindari tim dokter ketika Putra mengalami perdarahan lagi Selasa lalu. ''Kami mewaspadai kerapuhan pembuluh darah tersebut. Karena itu, kami selalu berpikir, ada cara lain atau tidak untuk mengatasi perdarahan? Melihat hasil CT-scan dan klinisnya membaik, ya alhamdulillah. Berarti tidak perlu invasi,'' kata dr Poerwadi SpB SpBA, koordinator tim liver transplant RSUD dr Soetomo, dalam konferensi pers kemarin pagi di lantai 2 Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT) RSUD dr Soetomo.

Kondisi umum putra bungsu pasangan Bambang Sutondo Winarno-Sulistyowati itu kemarin juga sudah menunjukkan perbaikan. Suhu badan serta tekanan darahnya tidak lagi meningkat. Karena itu, Putra sudah tidak perlu memakai blanket roll (selimut berpengatur suhu) yang selama ini digunakan untuk mengatasi suhu tubuhnya ketika naik. Sebelumnya, jika tubuh Putra panas, suhu selimut yang menjadi alas tidurnya itu akan diatur agar dingin supaya menyerap dan menurunkan panasnya. Jahitan pada bekas operasi trepanasi di kepalanya kemarin juga sudah dilepas karena luka-lukanya sudah kering. Ventilator (alat bantu pernafasan) untuk Putra kemarin juga sudah dilepas sekitar pukul 11.00. Tapi, sekitar pukul 17.00, ventilator dipasang lagi. Selanjutnya, proses lepas-pasang ventilator akan dilakukan dalam jangka waktu tertentu. "Hal ini untuk proses penyapihan agar Putra bisa bernafas secara mandiri," kata dr Philia Setiawan SpAn-KIC. Yang juga menggembirakan pada Putra adalah kerja liver barunya yang semakin menunjukkan tanda-tanda membaik. Hal itu bisa dilihat dari kadar albuminnya yang menurut hasil tes laboratorium kemarin pagi sudah cukup tinggi, yakni 4 persen. Artinya, kadar albumin Putra sudah masuk kadar normal yang batasannya 3,5-5 persen. ''Itu berarti livernya sudah bisa memproduksi albumin sendiri,'' jelas Poerwadi lantas tersenyum.

Keadaan Putra yang sudah membaik juga bisa dilihat dari kemauan minumnya yang lebih besar daripada hari sebelumnya. Dia juga sudah mampu mengangkat tangan kanannya, meski masih sangat lemah. Sesuai teori, ketika otak kiri mengalami perdarahan, yang akan terpengaruh adalah anggota tubuh (tangan dan kaki) sebelah kanan. Begitu pula sebaliknya. Karena itu, ketika tangan kanannya tidak bergerak pada Selasa lalu, tim dokter menduga itu merupakan akibat perdarahan di otak kirinya. Tangan kiri Putra juga pernah tidak bisa bergerak ketika otak kanannya mengalami perdarahan hebat dan harus dioperasi pada akhir April lalu. Tapi, beberapa hari kemudian, tangan kiri tersebut bergerak dan bahkan mampu memegang sendiri botol susu. Tapi, setelah kejang pada Minggu (2/5), dua tangan Putra tak bisa lagi digerakkan. Begitu pula dua kakinya. Namun, telapak kaki kanan dan kirinya bereaksi serta jari-jarinya seperti hendak mencengkeram ketika bagian kaki itu digelitik. Meski secara umum sudah lebih stabil daripada hari sebelumnya, kondisi bungsu di antara tiga bersaudara itu masih sangat mengkhawatirkan. Sebab, kemarin dia hanya bisa menelan minum yang disendokkan. Itu pun sangat lambat. Untuk minum dengan dot, Putra sudah tak mampu. Padahal, sebelumnya, hal yang paling menyenangkan dia adalah ketika diberi minuman dengan botol yang pakai dot.

Selain itu, irama napasnya kemarin tidak stabil. Kadang-kadang tenang, kadang-kadang terengah-engah. Putra kemarin juga mengalami gejala batuk dengan dahak yang agak banyak, tapi warnanya putih. Hal lain yang masih menjadi concern tim dokter adalah respons Putra yang masih sangat lemah. Pandangannya kosong. Sesekali saja dia menunjukkan ekspresi yang responsif terhadap keadaan di sekitarnya. Misalnya, melirik ke dokter yang mendekati atau memberinya minum atau meringis kesakitan ketika ujung jarinya ditusuk jarum pengecek gula darah. Kemarin sore, untuk kali pertama sejak terjadi perdarahan usus (6/5-7/5), Putra menguap tanda mengantuk. Tadi malam, emosinya mulai bisa merespons rangsangan. Ini dapat dilihat ketika dia menangis saat dipamiti dr Philia dan dr Arie Utariani SpAn-KIC, dua dokter yang memang paling dekat dengan Putra. Bocah asal Trenggalek, Jawa Timur itu juga menggeliat geli ketika difisioterapi nafas. Hal lain yang juga menjadi perhatian tim dokter adalah diare Putra yang belum berhenti, meski volumenya sudah jauh lebih sedikit daripada hari-hari sebelumnya. ''Selama 24 jam kemarin (11/5), diarenya mencapai 1.400 cc,'' kata dokter calon spesialis anestesi yang merawatnya Selasa malam, dr Rohmad Hariyono, saat morning report kemarin.

Segala perkembangan Putra sejak hari pertama transplantasi hingga berita ini diturunkan selalu dicatat dengan detail dan dilaporkan dalam rapat tim setiap pagi. Rapat tersebut bisa dilakukan dua sampai tiga kali dalam 24 jam bila kondisi Putra sedang kritis. Misalnya, ketika anak pasangan guru itu mengalami perdarahan otak pertama (28/4), kemudian saat perdarahan otak kedua (29/4), serta selama terjadi perdarahan usus dan ketika mengalami perdarahan di otak untuk kali ketiga pada Selasa lalu. Itu menunjukkan bahwa pemantauan terhadap perkembangan kondisi Putra -yang livernya diganti dengan sebagian hati ibundanya, Sulistyowati- dilakukan dengan sangat ketat oleh seluruh anggota tim yang berasal dari berbagai bidang. Mulai bedah, anestesi dan ICU, hepatolog (ahli liver) anak, mikrobiologi dan patologi klinik, radiologi (saat dibutuhkan), dan farmasi. Yang tidak kalah menarik, jalannya rapat dan hasilnya dipantau ketat oleh Direktur RSUD dr Soetomo Dr dr Slamet Riyadi Yuwono DTM&H MARS. Tak jarang, dokter kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, tersebut hadir dalam rapat. Pada saat-saat kritis, sekali pun itu tengah malam atau hingga dini hari, Slamet selalu hadir mendampingi tim yang menangani Putra.

Selain dr Slamet, hasil rapat harian kasus Putra tersebut dipantau ketat oleh Menteri Kesehatan Dr dr Endang Rahayu Sedyaningsih MPH PH serta anggota tim dokter kepresidenan, dr Hardi Pranata SpS. Setiap pagi, Slamet wajib mengirimkan SMS berisi laporan perkembangan kondisi Putra. SMS itu setiap hari dipantau Menkes dan dr Hardi. ''Pernah, dua hari saya tidak kirim SMS karena memang sedang sangat sibuk. Ternyata ditanyakan oleh Bu Menkes, kenapa tidak mengirim SMS?'' ungkap Slamet. Hal tersebut menunjukkan bahwa Menkes pun memberikan perhatian khusus pada masalah kesehatan Putra. Sebagaimana diberitakan harian ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Ani Yudhoyono juga memberikan perhatian yang sangat besar pada perkembangan kondisi Putra. Karena itu, dr Hardi secara rutin meminta laporan tentang perkembangan pasien transplantasi hati tersebut. Selama ini, SMS yang setiap hari dikirimkan Slamet itu juga sering ditanggapi dr Hardi maupun Menkes. Tak jarang, mereka mengirimkan SMS balasan berisi dukungan agar kondisi Putra cepat membaik. Perhatian itu disambut Slamet dan tim dokter RSUD dr Soetomo dengan gembira. ''Kami berterima kasih. Semoga, setelah ini kondisi Putra memang terus membaik,'' katanya. (rum/c5/kum)

Sumber: Jawapos

Comments :

0 komentar to “Liver Baru Putra Sudah Bisa Produksi Albumin; Menkes dan Dokter Kepresidenan Terus Pantau Kondisis Terbaru”

Post a Comment